Waspadai Efek Samping Obat Kimia

3 Jan 2009

Waspada terhadap efek damping obat-obatan kimia. Apalagi kalo sampe OD alias over dosis, nyawa taruhannya…

Beberapa hari yang lalu jantungku hampir dibuat copot oleh obat-obatan kimia tersebut. Betapa tidak, gara-gara obat yang mungkin terlalu banyak atau mungkin dosis yang kurang tepat, anakku masuk rumah sakit karena levernya dinyatakan dalam kondisi yang mengkawatirkan. Awalnya Brian, buah hatiku yang kecil , kurang lebih sebulan yang lalu sering mengeluh sesak nafas. Kupikir karena Si Buyung terlalu lama di depan komputer atau maen PS, atau mungkin kurang olah raga, maka kadang kala saat dia mengeluh dadanya kurang longgar jika bernafas, dadanya hanya aku kasih minyak kayu putih atau minyak gosok untuk membantu meredakan penderitaannya. Tapi semakin lama dia semakin sering mengeluh sesak nafas, maka kubawalah si kecil ke RS. Setelah konsultasi dokter specialis anak, periksa ini periksa itu anakku dinyatakan ada vlek diparu-parunya dan harus menjalani pengobatan selama 6 bulan. Sebagai orang tua yang peduli akan kesehatan anak, aku pasti nurut dong apa kata dokter. Okey lah, aku setuju jika anakku harus berada dalam masa pengobatan selama 6 bulan dan selama pengobatan itu tidak boleh putus.

Awalnya pengobatan sudah berlangsung selama 14 hari, kemudian oleh dokter spesialis anak tersebut diberi resep/obat lagi untuk sebulan kemudian - namun baru sehari mengkonsumsi obat lanjutan tersebut si kecil anakku jatuh sakit lagi, badannya panas, setiap saat muntah-muntah. Dia mengeluh perutnya mual, pingin muntah terus, kepalanya pening, lemes dan sebagainya, aku panik, takut terjadi apa-apa aku bawa lagi anakku ke RS tempat si dokter itu praktek, tapi berhubung dokternya libur praktek maka ditangani oleh dokter laen - yang kemudian dilakukan pengambilan/test darah untuk mengetahui ada indikasi DB (menurut dokter sedang banyak pasien yang terkena DB) - alhamdulillah hasilnya semua normal - hanya didiagnosa dokter sakit anakku tersebut (panas, mual, pusing, lemas) akibat radang tenggorokan - oleh dokter, diberikanlah resep yang harus aku tebus sebagai obat untuk mengobati penderitaan yang dikeluhkan anakku - disarankan untuk diminum bersama obat vleg paru-paru sebelumnya. Sampai dengan dua hari kemudian anakku masih saja mengalami hal yang sama, justru muntahnya makin sering dan tambah lemes saja anakku. Mukanya mulai pucat. Aku tambah panik dan kawatir.

Aku telpon dokter specialis anakku yang menangani sakit anakku. Aku ceritakan semua tentang penderitaan yang dialami anakku, aku tanyakan mungkinkah dokter memberikan obat yang tidak cocok untuk umur dan kondisi anakku. Si dokter menyarankan untuk datang ke tempat prakteknya untuk diperiksa kembali. Setelah si kecil diperiksa lengkap, hasil dari pemeriksaan sampel darahnya ternyata SGPT (ALT) di atas 900 padahal normalnya kisaran 0 - 40, dan SGOT (AST) di atas 800 normalnya 0 - 38. Padahal pada test darah yang pertama sebelum pengobatan vlek paru-paru hasil pemeriksaan darah SGPT cuma 18 dan SGOT cuma 10 (18 hari sebelumnya) , keduanya masih dalam batas normal. Tapi setelah konsumsi obat-obatan kimia tersebut SGPT dan SGOT nya naik lebih dari 20 kalinya… Bayangkan betapa aku tidak panik dengan kondisi anakku tersebut. Sedih, takut, pingin nangis, tapi aku harus tegar dan menyerahkan semua pada Tuhanku. Aku yakin Tuhan akan menolong buah hatiku.

Dokter yang menanganinya kulihat seperti sedikit cemas dan menyarankan untuk bedrest di RS karena kondisi anakku perlu perhatian lebih intensif. Berhubung RS tempat anakku periksa tadi kecil dan peralatan atau perlengkapannya kurang bagus maka, ku bawa anakku lari ke RS lain yang bertaraf internasional di daerah tempat tinggalku.

Setelah sampai di RS lain yang kuanggap representatif, konsultasi dengan dokter specialis anak disana, di sarankan memang harus opname alias rawat inap. Setelah test ini dan itu, dokter menyarankan agar pemakaian obat yang dikonsumsi selama ini dihentikan.

Selama dirawat anakku tidak lagi makan obat yang dari dokter yang pertama atau kedua yang menangani sakit anakku. Dia cuma diinfus dan hanya mengkonsumsi vitamin E (mungkin sebagai anti oksidan) sehari sekali di pagi hari.

dsc00015.JPG dsc00014.JPG

Rupanya Tuhan masih sayang sama aku dan anakku. Brian, buah hatiku, berangsur angsur menunjukkan perubahan kesehatan yang mulai membaik. Suhu tubuhnya normal, sudah tidak muntah - muntah lagi, tidak mengeluh pening-pening lagi. Setelah dokter menyatakan kondisi anakku makin bagus maka diizinkan untuk bedrest di rumah, meski seminggu lagi harus kontrol dokter dan test darah lagi untuk melihat perkembangan selanjutnya.

Puji Tuhan, akhirnya anakku yang tadinya selalu rewel karena penderitaannya, sudah bisa tersenyum kembali. Lega hatiku….. Terima kasih Tuhan… Engkau memberikan pertolongan pada Brian, permata hatiku…



TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post